Skip to main content

Random Paragraphs #10

Business Trip 1 minggu ...

Di hari terakhir business trip, gue tiba-tiba denger lagu Sal Priadi - Ada Titik-Titik di Ujung Doa

Gue duduk sendiri sambil mendengarkan lagu itu dan memikirkan dia yang selama 1 minggu ini ada di depan mata gue.

Mendengar namanya benar-benar bikin gue takut karena gue takut terluka lagi. Luka yang kemarin masih belum sembuh benar. Masih sering lewat di ingatan. Masih sering teringat betapa menyakitkan ditinggal ketika sedang sayang-sayangnya. Betapa menyakitkan mendengar berita bahagianya padahal sebelumnya kita pergi bersama.

Satu minggu selama business trip dia manis sekali. Bahkan lebih manis dari saat kita masih bersama.

Namun aku sadar penuh, ini semua sudah berakhir.  

Aku duduk sendiri bersama lagu itu dan luka-luka ini. Sesak sekali. Lalu membuka kembali percakapan lama kita berdua.

Benar, aku berekspektasi. Aku jadi terlihat membosankan.

Benar, aku sering salah paham dengan apa yang dia katakan. Aku terlihat begitu temparemental.

Benar, aku tidak pernah mendengarkan dia. Aku egois

Aku tidak bilang dia sempurna. Dia juga punya kesalahan. Tapi malam itu aku sadar, hubungan ini memang tidak berhasil karena aku juga.

Luka ini juga karena aku. 

Dia kasih aku kado yang selalu aku suka. Dulu pernah kuminta, namun akhirnya sekarang dia berikan. Aku menatap kadonya malam itu. Lucu sekali wajahnya, matanya... seperti pertama kali pembicaraan aku dan dia. Lucu dan ringan...

Aku memang bukan yang terbaik dan aku sadar itu. Aku ikut bahagia saat ini ketika dia menemukan seseorang yang bisa membahagiakannya. 

Malam itu aku berdamai. Aku berdamai dengan diriku dan semua lukaku. 

Aku tersenyum melihat chatnya. Mungkin ketika aku bertemu dengannya lagi, aku akan meminta maaf dan berterima kasih karena dia selalu memulai. Dia selalu mencari cara agar kita bisa berbicara. Mungkin dia tau aku rindu, namun aku tidak pandai memulai pembicaraannya.

Aku tidak bilang dia sempurna. Namun saat ini, aku tau luka ini juga karena aku. 

"Ada titik-titik di ujung doa. Doa keselamatan penutup malam. Yang harus diisi nama. Maka kuisi dengan namamu. Nama lengkapmu hurufnya kuhias berjuta warna. Sebisanya aku gambarkan juga bunga-bunga. Lengkap dengan kupu-kupu terbang di sekitarnya.

Ada titik-titik di ujung doa-doa. Keselamatan penutup malam. Kuisi dengan namamu. Kucoba memaafkanmu selalu. Kalau disitu ada salahku, Maafkanku juga" - Sal Priadi

Comments

Popular posts from this blog

Random Paragraphs #5

aku mengenangmu setiap hari hari-hari ku berputar dengan harapan matahariku bersinar sambil membisikkan kenangan apa jadinya jika dalam setiap detik, aku merindu suaramu aku rindu menggenggam tanganmu aku mencintaimu lebih dari kata itu sendiri aku merindukanmu lebih dari pantai merindukan lautan aku tidak pernah menemukan kata untuk melukiskan rasa ini kepadamu "setelah kamu, semuanya autopilot ." pikirku hatiku sudah habis untuk mencintaimu ibarat bunga abadi yang kurawat baik di dalam hatiku setelah kamu, semuanya tidak ada lagi ... png

Once upon a dream ...

Pergi dari zona nyaman, mulai lagi dari 0 Setelah 14 tahun, aku tau dia adalah safe place aku.  Dia itu sabar. Dia pendengar yang baik. Dia sering ngasih insight buat aku. Dia adalah semangat aku untuk ngejar mimpi aku. Dia adalah cintanya aku. 14 tahun mencintai dia. Tidak pernah bisa berlabuh, namun cinta untuk dia tetap tumbuh. Walau terkadang komunikasinya rasanya jauuh sekali, aku tau di ujung teleponku dia ada. Dia ada menunggu aku menyapa. Terkadang karena kesibukannya, dia ga reply. Tapi aku tau dia ada dan aku bisa reach out dia. Sampai tanggal 10 Februari 2026. Dia blokir nomor hpku. Aku baru saja tau kalau WhatsAppku hanya centang  1 di hari ini. Seketika duniaku runtuh. Aku tau aku ada kesalahan yang mungkin menyebabkan hal ini perlu dia lakukan. Semarah-marahnya dia, ga pernah dia blokir nomor aku. Lalu di pikiranku hanya "aku harus gimana? kalo bukan dia, siapa? berkurang lagi dong orang yang bisa aku percaya tentang semuanya." Setengah umurku sudah kupakai untu...

Random Paragraphs #4

Tak apa dingin asal bukan hati kita Tak apa basah asal bukan mata kita Biarpun harus beku dihembus angin;  denganmu aku tetap ingin Biarpun kepak begitu erat; harap ini tetap kudekap erat Hujan saja yang reda; rindu ini jangan Musim saja yang pergi; kamu ga boleh ikut-ikutan png